SEMINAR STAIN GP TAKENGON DENGAN YAYASAN JALIN PERDAMAIN DENGAN TEMA TERORISME

Iklan Semua Halaman

News

SEMINAR STAIN GP TAKENGON DENGAN YAYASAN JALIN PERDAMAIN DENGAN TEMA TERORISME

Thursday, March 5, 2020

Tabloid Putra Pos.com | TAKENGON - Seminar Nasional kerjasama antara STAIN Gajah Putih Takengon dengan Yayasan Jalin Perdamain dengan tema "Terorisme, darimana dan hendak ke mana", bertempat di Gedung Olah Seni (GOS) alamat Jln. Yos Sudarso Kp. Blangkolak 1(satu), Kec. Bebesen, Kab. Aceh Tengah, Rabu (26/02/2020).

Acara yang turut dihadiri  langsung oleh Ketua STAIN Gajah Putih Takengon Dr. Zulkarnain, M.Ag, Dosen STAIN Gajah Putih Takengon Dr. Almusanna, M.Ag, juga Narasumber dari anggota Komisi VI DPRA Tezar Azwar, M.Sc, Narasumber dari Dosen UIN Ar Raniry Kamaruzzaman, Bustaman Ahmad, Ph.D, Narasumber dari Ahli Sejarah/Cendikiawan Prof. Ahmad Syafi'ie Mufid, Narasumber  Direktur Eksekutif Yayasan Jalin Perdamaian Yudi Zulfahri, M.Si, Ormas Al-Jamiatul Alwasiyah, Majelis Guru dan beberapa Mahasiswa dari pasca sarjana, Mahasiswa Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon, Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STIKIP) Takengon dan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIHMAT) Takengon.


Ketua STAIN Gajah putih Takengon Dr. Zulkarnain, M.Ag, menyampaikan kata sambutannya," Kami berharap agar para peserta dapat mempergunakan kesempatan ini dengan baik, sehingga dapat memahami dan mendapatkan pembelajaran terkait apapun yang dijelaskan terkait terorisme karena, terorisme itu bukan hanya sekedar gaya hidup para pelaku teror tetapi juga metode yang digunakan para Terorisme untuk menuntut hak dan kewajibannya," sampai Ketua STAIN GP Takengon.

Untuk itu, lanjut Zulkarnain," kami mengaharapkan agar selalu menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, dengan ilmu manusia dapat membimbing perilakunya kejalan yang lebih baik, namun, dewasa ini banyak masyarakat yang hanya mencari ilmu melalui media sosial tanpa ada literasi yang jelas sehingga dapat menjerumuskan perilaku seseorang menjadi tidak baik dan tidak patut untuk ditiru," ucap Dr. Zulkarnain M.Ag.


"Kemudian, ada sebagian dari pemeluk agama Islam yang memiliki satu prinsip dan keyakinannya dengan mengatasnamakan agama Islam sebagai alat untuk menghasut dan memacahkan belah umat beragama dengan membuat berbagai macam kontra secara teror," jelas Zulkarnain.

Adapun Materi yang disampaikan oleh para pemateri, Yudi Zulfahri, M,Si. (Direktur Eksekutif Yayasan Jalin Perdamaian) menyampaikan, materi tentang asal terorisme dan perkembangan terorisme diantaranya," Dapat saya sampaikan pengalaman saya saat bergabung dengan kelompok Terorisme di daerah Jalin Aceh Besar, Dalam pemahaman Terorisme terdapat 2 (dua) kategori pemahaman yaitu, paham berbasis Ideologi dan berbasis kekerasan, kejahatan berbasis Ideologi cenderung memiliki keyakinan bahwa tindakan Terorisme didasari keyakinan dan kebenaran, sementara, paham berbasis kekerasan cenderung didasari oleh adanya sifat jihad," kata Yudi Zulfahri.

"Teroris yang berlandaskan agama tidak hanya terjadi pada agama Islam, tetapi juga agama lainnya, seperti di Amerika Serikat terdapat Army God (kelompok teroris Nasrani), RSS (kelompok teroris Hindu) serta kelompok teroris Budha di Rohingya, (Myanmar) Untuk agama Islam terdapat kelompok teroris yaitu ISIS, Ciri - ciri individu terpapar paham radikalisme diantaranya yaitu mendadak anti sosial, menghabiskan waktu dengan komunitas baru secara tertutup, perubahan secara emosional (pada saat membahas topik politik dan keagamaan), berani mengungkapkan kritik yang berlebihan terhadap sistem

kemasyarakatan/menyalahkan kelompok tertentu secara ekstrim, memutuskan komunikasi dengan keluarga, Kegiatan yang dilakukan oleh Teroris adalah merekrut, mengikuti pelatihan, menampung pelaku, menyerahkan dokumen dan memiliki hubungan teror," paparnya.


Diwaktu yang sama Pemateri Tezar Azwar, M.Sc (anggota Komisi VI DPRA Bidang Pendidikan), menyampaikan," materi tentang peran pemerintah dan masyarakat dalam penanggulangan Terorisme di Indonesia yaitu, sebagai Masalah terorisme bukan hanya menjadi tanggung jawab BNPT serta Densus 88 semata, namun juga sudah menjadi permasalahan bersama serta lebih pentingnya peran masyarakat dalam upaya menangkal masuknya paham-paham yang radikal di tengah masyarakat," ujarnya.

"Ajaran Terorisme pertama kali dikenalkan pada awal abad ke-20 oleh bangsa Yahudi dengan istilah "Crazy Dog" dan aksi Terorisme tersebut diajarkan kepada masyarakatnya dalam upaya melakukan pembunuhan terhadap tentara Romawi pada saat itu, Beberapa peran pemerintah daerah dalam menanggulangi Terorisme dapat dilakukan dalam beberapa upaya diantaranya, rehabilitasi sosial para mantan Napiter, membantu proses reintegrasi sosial para mantan Napiter dan menghilangkan stigmatisasi oleh masyarakat serta melibatkan para mantan Napiter dalam kegiatan dalam program Deradikalisasi dan pencegahan Radikalisme (Sosialisasi)," tutur Anggota Komisi VI DPRA bidang Pendidikan.

Beberapa kendala yang dihadapi dalam upaya penanggulangan Terorisme di Indonesia adalah semakin banyak dan menyebarnya mantan Napiter ke seluruh wilayah Indonesia, kurangnya personel BNPT yang menyebabkan tidak terbinanya para Napiter secara intensif, anggaran yang sangat terbatas guna membiayai wirausaha dan kemandirian para Napiter serta adanya anggapan sebagian masyarakat yang menganggap bahwa penanggulangan Terorisme merupakan bentuk propaganda terhadap umat Islam.

Kamaruzzaman Bustaman Ahmad, Ph.D (Penulis/Dosen UIN Ar Raniry) juga menyampaikan tema tentang trend baru radikalisme di Indonesia dan konflik dalam pikiran manusia yaitu sebagai berikut," Saat ini, ada trend baru konflik dalam pikiran manusia yang sangat mengkhawatirkan yaitu pengetahuan dan informasi yang berbasis terhadap internet, kecanduan dalam pengetahuan agama secara virtual dan mereproduksi musuh dalam internal masyarakat," katanya.

"Kecenderungan masyarakat yang menerima informasi serta pengetahuan melalui media sosial dan virtual tanpa adanya literasi yang jelas sangat berbahaya bagi pemahaman dirinya, karena tanpa dilandasi leterisasi yang jelas hanya akan menimbulkan penalaran yang salah sehingga dapat mendoktrin suatu hal yang belum tentu kebenaranya namun dianggap benar dan patut untuk diperjuangkan," terang Kamaruzzaman Bustaman Ahmad.

Dilanjutkan dengan tambahan pertanyaan dari Erizka (Perwakilan Guru Aceh Tengah), menanyakan bagaimana cara menghindari pemikiran dan ideologi Terorisme?, Mawaddah (Mahasiswa STAIN Gajah Putih Takengon) menyampikan bagaimana cara mengubah pandangan masyarakat yang melihat wanita bercadar dan celana cingkrang saat ini?, Susila (Mahasiswa Pasca Sarjana STAIN Gajah Putih Takengon) menyampaikan apa sebab dan faktor seseorang begitu cepat dan mudah terpapar paham radikalisme?.

Tanggapan/jawaban para narasumber terkait pertanyaan para peserta yaitu sebagai berikut,  Kamaruzzaman Bustaman Ahmad , Ph.D (Penulis/Dosen UIN Ar Raniry) menanggapi bahwa," cara menghindari paham dan ideologi terorisme yaitu dengan memperbanyak komunikasi dengan keluarga, selalu peduli terhadap lingkungan sekitar dan memperbanyak membaca atau mencari tau tentang agama Islam yang sesungguhnya," jawabnya secara ringkas.

Selanjutnya, Kamaruzzaman kembali menanggapi tentang pandangan wanita bercadar dan lelaki bercelana cingkrang/gantung bahwa," itu hanyalah salah satu strategi serta stigma yang ditimbulkan oleh Amerika untuk memperburuk citra peradaban Islam dengan mengidentikan wanita muslim bercadar serta lelaki bercelana gantung merupakan kelompok radikal. Namun perlu saya sampaikan bahwa jangan pernah takut atau khawatir untuk menggunakan cadar karena pakaian itu adalah pakaian yang di sunnahkan oleh Rasulullah," ucapnya.

Yudi Zulfahri, M, Si. (Direktur Eksekutif Yayasan Jalin Perdamaian) turut menyampaikan penyebab seseorang terpapar paham radikal yaitu," melalui sifat intoleransi antar sesama serta adanya sifat menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar dan selalu menyalahkan pendapat orang lain," jelas Yudi Zulfahri yang turut ikut memberikan penjelasa.

Seminar nasional tentang paham radikalisme dan terorisme diselenggarakan oleh Yayasan Jalin Perdamaian yang merupakan yayasan milik para Eks. Narapidana teroris Aceh dan telah diresmikan oleh BNPT pada bulan Maret 2019 dengan tujuan untuk bersinergi dengan Pemerintah dan berbagai lembaga maupun instansi lainnya dalam upaya mencegah berkembangnya paham-paham ekstrimisme.

Yayasan Jalin Perdamaian bekerjasama dengan STAIN Gajah Putih Takengon guna menyelenggarakan seminar tersebut dengan harapan dapat memberikan pemahaman tentang bahayanya paham radikalisme kepada generasi muda maupun tenaga pendidik di Kabupaten Aceh Tengah. (Indra G)