“Setelah banjir surut, kami menemukan sebagian besar perlengkapan ibadah sudah basah total, sebagian lagi hilang terbawa arus.
Kadang kami harus berbagi sajadah dengan tetangga, atau bahkan salat di atas tanah yang baru saja kering.
Ketika bantuan ini datang, rasanya seperti diberikan secercah cahaya di tengah kegelapan. Sekarang setidaknya kami punya perlengkapan yang layak untuk beribadah.
Kita berharap sebelum Ramadan tiba, kita bisa kembali berkumpul di musala seperti dulu, penuh kebahagiaan dan khidmat kepada Allah” (M. Husen)
Tabloidputrapos.com | Aceh Timur– Deru arus banjir yang melanda Desa Pante Rambong, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, bukan hanya menghanyutkan rumah dan harta benda warga Dusun Tanjong Meuleuweuk.
Gelombang air yang membanjiri kawasan itu juga menghancurkan harapan mereka yang tengah menghitung hari menuju bulan suci Ramadan. Musala satu-satunya yang jadi jantung aktivitas keagamaan masyarakat kini tak dapat digunakan lagi.
Di tengah suasana pascabanjir yang penuh kesulitan, sinar harapan muncul pada Minggu (1/2/2026). Sekolah Relawan Peduli Banjir bekerja sama dengan EPSON datang membawa bantuan .
Bukan sekadar barang, mereka menyampaikan kepedulian melalui perlengkapan ibadah: mukena yang masih baru, sajadah yang lembut, sarung yang rapi, serta perlengkapan ibadah lainnya yang menjadi kebutuhan primer bagi warga yang selama ini terpaksa menjalankan ibadah dalam kondisi sangat terbatas.
“Banjir bisa merusak segala sesuatu yang kita miliki, tapi tidak boleh sampai merusak hubungan kita dengan Sang Pencipta,” ujar Koordinator Sekolah Relawan Peduli Banjir dengan suara penuh rasa empati.
“Kami ingin bantuan ini bukan hanya meringankan beban fisik, tapi juga memberikan dukungan spiritual agar masyarakat tetap bisa menjalankan ibadah dengan penuh kesucian.”
Kisah keprihatinan juga datang dari salah seorang warga, M. Husen. Dengan mata yang sedikit merah, pria itu mengungkapkan kondisi yang dialami oleh banyak keluarga di dusunnya.
“Setelah banjir surut, kami menemukan sebagian besar perlengkapan ibadah sudah basah total, sebagian lagi hilang terbawa arus.
Kadang kami harus berbagi sajadah dengan tetangga, atau bahkan salat di atas tanah yang baru saja kering,” ujarnya sambil mengusap sudut matanya.
“Ketika bantuan ini datang, rasanya seperti diberikan secercah cahaya di tengah kegelapan. Sekarang setidaknya kami punya perlengkapan yang layak untuk beribadah.”
Namun, masalah utama yang masih menggantung di hati setiap warga adalah nasib musala yang sudah berdiri sejak lama sebagai tempat berkumpulnya umat.
Dinding yang roboh, lantai yang tertimbun lumpur tebal dan perabotan ibadah yang hancur membuat musala tersebut tak dapat digunakan lagi.
Sejak saat itu, aktivitas ibadah harus dilakukan di mana saja yang mungkin, di halaman rumah yang cukup luas, ruang tamu yang masih bisa ditempati, atau bahkan di bawah pohon rindang yang menjadi tempat sementara berkumpulnya jamaah.
Menjelang Ramadan yang semakin dekat, ketika malam-malam akan diisi dengan salat tarawih berjamaah, tadarus Al-Qur’an yang penuh kehangatan, dan silaturahmi antar sesama, keinginan warga untuk memiliki tempat ibadah yang layak semakin kuat.
Mereka berharap pemerintah daerah dan pihak swasta dapat turut serta membantu memperbaiki musala yang rusak, atau membangun sarana ibadah baru yang lebih tangguh terhadap bencana.
Bukan hanya untuk menjalankan ibadah dengan khusyuk, tapi juga untuk menyatukan kembali tali persaudaraan yang pernah terjalin erat di bawah atap musala yang kini tengah terluka akibat banjir.
“Kita berharap sebelum Ramadan tiba, kita bisa kembali berkumpul di musala seperti dulu, penuh kebahagiaan dan khidmat kepada Allah,” ucap M. Husen dengan harapan yang terpatri di wajahnya.
Penulis : Panjaitan
Editor : Panjaitan
Sumber Berita: Rilis pers